PENCANANGAN PENERAPAN SEKOLAH/MADRASAH AMAN

AMCDRR atau The Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction adalah Konferensi Tingkat Menteri Asia untuk Pengurangan Risiko Bencana. Ini adalah konferensi 2 tahunan di kawasan Asia dan Pasifik untuk membahas tindak lanjut implementasi Hyogo Framework of Action dan peningkatan kerjasama di bidang penanggulangan risiko bencana, serta mensinergikan DDR dengan CCA. AMCDRR telah 4 kali diselenggarakan masing-masing di Beijing, New Delhi, Kuala Lumpur dan di Incheon pada tanggal 25-28 Oktober 2010. Untuk pelaksanaan AMCDRR yang ke-5, secara consensus, pertemuan di Korea menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah di tahun 2012 yang sedianya akan diselenggarakan pada tanggal 22 – 25 Oktober. Terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah ke-5 AMCDRR diharapkan dapat memperkuat diplomasi Indonesia di bidang bencana dan kemanusiaan yang selama ini telah diakui banyak negara.

Pendidikan kebencanaan termasuk didalamnya komponen Sekolah Aman dan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) yang inklusi menjadi isu penting di Indonesia. Hal ini sejalan dengan kampanye yang dilakukan oleh United Nation-International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) bersama dengan BNPB, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemenkokesra, Kementerian Kesehatan, Platform Nasional PRB, Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB) dan Mitra sejak 29 Juli 2010 kampanye “Sejuta Sekolah Aman dan Rumah Sakit Aman”. Komitmen pemerintah dalam menindak lanjuti kampanye ke dalam regulasi dan program-program pengurangan resiko bencana terutama di sektor pendidikan, mengantarkan Bapak Presiden SBY sebagai Kepala Negara pertama yang memperoleh penghargaan Global Championship on DRR dari UNISDR pada 9  Mei 2011.

Setelah peringatan setahun kampanye sekolah dan rumah sakit aman pada 29 Juli 2011, Perkumpulan KerLiP, Mitra K/L/D/I, Pihak Perguruan Tinggi, Pihak Media, perkumpulan Skala, BMP dan mitra lainnya membentuk Sekretariat Nasional Sekolah Aman pada 25 Agustus 2011 di kantor IA-ITB. Sekretariat ini bertujuan mendorong upaya sinkronisasi regulasi dan kebijakan di K/L/D/I terkait sekolah/Madrasah Aman. Pada tahun 2011 Seknas berhasil mendorong alokasi DAK Pendidikan dan dana rehabilitasi nasional  untuk rehabilitasi ruang kelas sebesar 11 T dan tahun anggaran 2012 sebesar 20,4 T. selain dari alokasi DAK Pendidikan, mata anggaran Rehabilitasi Nasional dari APBN juga berhasil didorong untuk menuntaskan sebanyak 194.844 ruang kelas rusak berat. Maka pada November 2011 pemerintah mencanangkan gerakan nasional penuntasan rehabilitasi ruang kelas rusak berat. Selain itu, dana tersebut ditambah dengan dana Dekon dari pusat untuk penuntasan rehabilitasi ruang kelas rusak berat pada tahun 2012. Program penuntasan rehabilitasi ruang kelas merupakan momen yang tepat untuk menjadikan sekolah dan Madrasah yang ada di NTB sebagai sekolah dan madrasah aman.

Selain tema sinkronisasi kebijakan, penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana, juga mengusung dua tema strategis lainnya yakni: peningkatan partisipasi publik termasuk anak dan pelembagaan. Pemodelan peningkatan partisipasi publik terutama anak sudah pernah dilakukan oleh Perkumpulan KerLiP, Plan Indonesia, Child Fund, Konsorsium Pendidikan Bencana dan mitra K/L/D/I lainnya. Pembentukan Sekretariat Nasional Sekolah Aman di tingkat Nasional disusul dengan Sekretariat Daerah Jawa Barat, Kalimantan Timur, NTB, Sikka, Rembang, Grobogan merupakan bentuk pelembagaan aktivitas penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana.

Kami mendorong semua pemangku kepentingan termasuk anak untuk menunjukkan komitmen penuh dalam upaya penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana khususnya penggunaan dana rehabilitasi yang melalui mekanisme Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan, Program Rehabilitasi Nasional untuk sekolah/madrasah dari dana APBN/APBD, dan sumber dana lainnya. Untuk langkah selanjutnya, kami merekomendasikan kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah  untuk:

  1. Bersungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan Gerakan Penuntasan Rehabilitasi Sekolah/Madrasah dalam upaya Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana secara struktural (fisik) dan non struktural (non fisik) dengan kebijakan, perencanaan, dan penganggaran APBN/APBD.
  2. Mendukung program percontohan di provinsi yaitu Sumatera Barat (Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman), Jawa Barat (Kota Bandung dan Kabupaten Bandung) dan Nusa Tenggara Barat (Kota Mataram dan Kab. Lombok Barat), Nusa Tenggara Timur (Sikka), Jawa Tengah (Rembang dan Grobogan). Percontohan ini dapat direplikasi oleh Pemerintah pusat dan pemerintah daerah dan menjadi pembelajaran untuk daerah lain, sekaligus dapat dipertimbangkan menjadi masukan untuk pengembangan Juknis Program DAK Pendidikan dan Rehabilitasi Nasional Sekolah/Madrasah di tahun 2013.
  3. Berpartisipasi aktif dalam mensukseskan Indonesia sebagai tuan rumah AMCDRR pada bulan Oktober 2012. salah satu caranya dengan mendokumentasikan penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana dalam bentuk foto (sebelum, selama dan sesudah) pelaksanaan rehabilitasi sekolah/madrasah. Dokumentasi berupa foto yang dilengkapi essay tersebut, kemudian dikirimkan ke alamat email:  seknas.sekolahaman@gmail.com
  4. Mendukung dicanangkannya inisiatif “Kerjasama Global untuk Sekolah Aman” (Global Partnership for Safe School) dalam acara AMCDRR tersebut dan mendukung Indonesia untuk memimpin kerjasama global tersebut untuk beberapa tahun kedepan.

Ketua Seknas Sekolah Aman

Yanti Sriyulianti

HP: 081220555069

yantikerlip@gmail.com

Advertisements

Langkah praktis Penerapan GERA SHIAGA di Sekolah/Madrasah/Rumah

  1. Obrolan ringan tentang pengalaman yang berkaitan dengan bencana, langsung atau tidak langsung, di sekolah/madrasah/rumah
  2. Bicarakan juga tentang berbagai kemungkinan bencana yang dapat terjadi di sekitar sekolah/madrasah/rumah
  3. Identifikasi bersama jumlah penghuni sekolah/madrasah/rumah termasuk anak laki-laki, anak perempuan, anak berkebutuhan khusus dan nomor kontak masing-masing
  4. Minta anak-anak untuk menelusuri sekolah/madrasah/rumah dari pintu gerbang, halaman, dan ruang-ruang yang ada
  5. Menyimak pendapat anak-anak mengenai tempat/ruang paling favorit di sekolah/madrasah/rumah (atau yang paling sering dikunjungi) oleh anak lperempuan, anak laki-laki, termasuk anak berkebutuhan khusus dan jadwal rutin kunjungan ke tempat favorit tersebut
  6. Kunjungi tempat favorit anak perempuan dan anak laki-laki termasuk anak berkebutuhan khusus
  7. Di setiap tempat favorit tersebut, bersama anak-anak kita kenali:
    1. Kerentanan (fisik, non-fisik)
    2. Kapasitas (fisik, non-fisik)
  8. Diskusikan:
    1. Cara menandai zona aman, hati-hati dan tidak aman
    2. Jalur keluar yang paling aman
    3. Aksi langsung yang dapat dilakukan bersama anak-anak untuk meningkatkan keamanan, kebersihan, kesehatan, kenyamanan dan kelayakan termasuk kemudahan bagi anak berkebutuhan khusus
  9. Lakukan Aksi Nyata saat ini juga di sekolah/madrasah/rumah kita