Narasi Roadshow GERASHIAGA di SMP Al Falah oleh Arlian Puri

Narasi Arlian Puri Anggraeni
Sabtu, 8 Juni 2013
Saya dan Devita dari GSB MSA atau Gerakan Siswa Bersatu Menuju Sekolah Aman SMP Negeri 11 Bandung, mengikuti roadshow di SMP Al Falah. Seharusnya pada jam 7 kami berkumpul di Mc Donald tetapi kami terlambat karena kami kumpul di sekolah dulu menunggu Ocha, ternyata sekitar jam set 8 Ocha memberitahu bahwa dia tidak bisa ikut karena baru bangun dan ibunya sedang pergi ke pasar jadi tidak ada yang menjaga rumah. Hal ini sudah terjadi 2 kali, waktu itu Agung yang melakukan hal yang sama sekarang giliran Ocha. Hal ini membuat saya mempelajari konsisten itu penting, saat kita sudah berjanji untuk melakukan suatu hal maka kita harus melakukan itu apalagi kalau kita melanggar janji kita tanpa alasan yang jelas atau saat kita tidak bisa menghadiri kita harus memberitahu terlebih dahulu. Lalu kami langsung berangkat menuju Dago menggunakan angkot, kami sampai di Mc Donald Simpang Dago sekitar jam 8 an padahal seharusnya kami datang jam 7 untuk briefing. Saat sampai sana kami bingung teh Fitri ada dimana kami memutuskan menunggu di luar dan sms Teh Fitri bahwa kami sudah ada disana ternyata teh Fitri sudah ada disana dari tadi. Saat kami datang dan sudah bertemu teh Fitri kami semua langsung menuju smp Al falah yang tidak jauh dari tempat kami bertemu. Sepanjang jalan saya dan Devita bingung akan melakukan apa di sana apalagi tadi kita tidak mengikuti briefing terlebih dahulu.
Setelah sampai di smp Al falah kami semakin bingungg ingin melakukan apa di sana karena kami tidak mengetahui apa saja yang akan kami fasilitasi sebagai fasilitator disana. Setelah beberapa waktu kami diam dan melihat kakak-kakak dari AFS mensosialisasikan tentang mereka. Tiba saatnya simulasi bencana, saat si,mulasi ini saya diminta teh Fitri sebagai logistik bersama teh Ien, kami diminta menjaga tas-tas anak-anak yang sedang melakukan simulasi. Lalu tugas itu berubah, saya diminta menjaga kotak makan anak-anak karena tasnya akan digunakan untuk alat menyelamatkan diri pada saat terjadi simulasi karena melindungi kepala dengan tas atau tangan sangat bermanfaat. Lalu beberapa saat kemudian tugas kami berubah lagi kami diminta ikut bergabung saja saat terjadi simulasi, karena anak-anak tidak mau bekalnya ditaruh di kelas itu, alasannya takut dimakan, ribet dan berbagai hal lainnya.
Akhirnya simulasi pun berlangsung sekitar jam 9 nan dan anak-anak smp Al Falah terlihat tidak serius berbeda dengan pengalaman kami selama roadshow di SD. Di SD anak-anak terlihat lebih antusias mungkin anak-anak SMP AL Falah sudah menganggap “toh, ini cuma simulasi “ . Jika dibandingkan dengan simulassi di SMPN 11 saat Festival Cita Citarum SMP Al falah jauh berbeda mungkin alasannya pertama saat di SMPN 11 semua pihak diajak melakukan simulasi mulai dari Kepala Sekolah yang sangat antusias, guru-guru, dan seluruh murid kelas 8 dan 9 sementara kelas 7 diliburkan. Sementara di SMP Al Falah hanya anak-anak kelas 7 SMP yang melakukan simulasi tidak ada guru ataupun kepala sekolah. Lalu saat simulasi di SMPN 11 dilakukan latihan berulang kali sekitar 3 kali seluruh pihak melakukan latihan berkali-kali demi hasil yang maksimal. Sementara saat di SMP Al Falah hanya 1 kali dan tempatnya tidak memungkinkan apalagi dengan kondisi tangga yang sempit sementara jumlah siswa lebih dari kapasitas.
Menurut saya simulasi seperti itu tidak efektif karena pertama anak-anak sudah terlihat bosan dan lebih memilih untuk pulang, kedua simulasi ini hanya terjadi 1 kali yaitu saat kita datang saja karena tidak adanya perjanjian dengan pihak sekolah bahwa di sekolah itu akan terjadi simulasi yang rutin dan pelajaran-pelajar yang berkaitan dengan PRB,
Setelah simulasi saya bersama Devita dan teh Fitri melakukan penilaian kerentanan di tempat yang paling sering mereka kunjungi atau istilahnya tempat nongkrongnya mereka yaitu di kantin atau bisa disebut warung karena itu di luar sekolah dan bukan merupakan fasilitas sekolah, ternyata mereka diperbolehkan untuk jajan di luar pada saat istirahat hal ini sangat rawan karena mereka sangat mungkin mengalami berbagai kejahatan ulai dari penculikan, ataupun keracunan makanan di luar dan ini bukan salah sekolah karena itu berada di luar sekolah. Di warung itu sangat banyak kerentanannya mulai dari rawan tertabarak, galon yang terjatuh, dan berbagai kerentanan yang sangat membahayakan. Selain kerentanan ada juga kapasitas yang ada di warung tersebut yaitu adanya obat-obatan tetapi obat-obatan ini susah dijangkau.
Setelah melakukan penilaian kerentanan, saya kembali ke atas untuk persentasi mengenai Zero Waste Event. Saya menjelaskan bahwa pemilahan sampah itu sangat penting tapi apa yang saya sampaikan sepertinya tidak disimak dengan baik karena konsentrasi anak-anak mulai terpecah dengan makanan dan keinginan mereka untuk segera pulang.
Setelah itu beberapa kegiatan penutup diadakan dan tiba saatnya evaluasi menurut saya ada beberapa hal yang kurang. Seperti yang saya jelaskan tadi tetapi saya sangat berterima kasih mulai dari kakak-kakak AFS, Kerlip, dan Green Smile dan seluruh siswa dan siswi Al Falah yang telah memberikan saya pengalaman yang sangat berharga.
Ternyata roadshow yang selama ini menurut saya dan Devita paling baik adalah saat di SDN Astana Anyar.  sekian, Terima Kasih

Menyiapkan Roadshow GERA SHIAGA di SMP Al Falah Bandung

Akhirnya pertemuan dengan Yanti dan Audi dari Bina Antar Budaya Bandung (alumni AFS) jadi dilaksanakan Kamis pagi pukul 10. Keduanya datang membawa usulan rundown kegiatan Roadshow GERA SHIAGA towards YES at School yang akan dilaksanakan tanggal 8 Juni 2013. Katanya sih akan diikuti 200 anak dari SD dan SMP Al Falah pada pukul 08.00 – 13.00. Fitry, direktur Green Smile Inc. pun bergabung untuk membahasa rincian tahapan kegiatan dalam rundown tersebut.

Kami menganalisa waktu yang diperlukan untuk setiap sesi dan melengkapi rincian setiap sesi dalam rundown tersebut. Rupanya untuk mencapai semua rincian GERA SHIAGA diperlukan waktu sebanyak 5 jam. Untuk itu kami pun berbagi peran. Alumni AFS dan kawan-kawan akan membawa 200 buku sumbangan untuk setiap anak yang mengikuti roadshow dan 20 fasilitator sedangkan sisanya akan disiapkan Green Smile Inc. dan KerLiP bersama Sahabat GERA SHIAGA dari GSB MSA SMPN 11 Bandung.

Wah, rupanya masih banyak yang harus segera ditindaklanjuti. Fitry segera menghubungi Yenny yang juga bekerja sebagai TU SMP Al Falah. Ada beberapa informasi yang harus disampaikan kepada pihak sekolah terkait bekal makanan yang harus dibawa ananda, perlengkapan audio visual, persiapan tempat, dan pembagian tugas untuk komunitas-komunitas anak dari ekstrakurikuler yang diikuti masing-masing.

Fitry juga berkoordinasi dengan yanti dan Audi untuk perubahan rundown dan  perlengkapan yang diperlukan. Usulan Perubahan Rundown Baru

Hari Jum’at pagi, kami bersama-sama menyusun LIBRA YES at School dari panduan PRB di sekolah yang diadopsi dari program DRR Homestay yang pernah kami laksanakan bersama sahabat-sahabat mahasiswa dari Universitas Toyohashi, Kyoto dan Waseda difasilitasi dosen dan mahasiswa ITB yang merintis Bandung Disaster Study Group (BDSG). Sedangkan 7 langkah menuju sehat dengan CTPS kami peroleh dari google.

Fitry sibuk koordinasi dengan alumni AFS dan Pak Yuda -kesiswaan SMP Al Falah sambil menyiapkan bahan-bahan yang terus dikembangkan sesuai kebutuhan rundown yang disepakati. Iwang membantu mencarikan perlengkapan CTPS.

Saya membantu mereka dengan menghubungi KerLIP production, Irwan dan Andi juga anak-anak GSB SMPN 11 Bandung. Devita, Arlian dan Ocha siap hadir memfasilitasi Roadshow GERA SHIAGA di SMP Al Falah.

Ternyata yang akan mengikuti roadshow GERA SHIAGA kali ini adalah 200 anak kelas 7 SMP Al Falah.