Pak Zulfikri Anas, guru dan mentor-GeMBIRA bersama KerLiP

Kejeniusan dilahirkan dari ke-GeMBIRA-an

Kutipan Thomas Amstrong dalam buku Sekolah untuk Kehidupan karya Pak Zulfikri mendorongku untuk kembali menuliskan narasi perjalanan Gerakan Membangun Indonesia Ramah Anak (GeMBIRA) bersama Keluarga Peduli Pendidikan. Sungguh kehormatan bagi Perkumpulan yang kami dirikan diberi kesempatan tumbuh bersama pakar kurikulum yang memiliki impian yang sama, mendorong pemenuhan hak pendidikan anak yang inklusif dan nyaman bagi perkembangan fisik, kognisi, psikologi dan sosial anak perempua  dan anak laki-laki termasuk anak yang memerlukan pendidika  khusus dan/atau pendidikan layanan khusus. Alhamdulillah, kami tidak bertepuk sebelah tangan. Dalam bukunya, Pak Zul menyelipkan kisah pertemuan kami saat mengapresiasi buku Sekolah yang Menyenangkan karya Pak Edi Sudrajat dan kawan-kawan Gemilang Mutafannin.

Pendidikan Untuk Semua

Agar anak berani gagal menjadi moto terpilih, saat Pak Edi, Pak Seno, Pak Suhana, Pak Iwan, dan Pak Lukman mengajakku untuk berpartisipasi mengembangkan SD Hikmah Teladan. Saat itu aku baru saja merintis Penerbit Kiblat Buku Utama bersama Kang Rahmat dkk. Karya-karya guru MI Asih Putera tempatku bekerja sebelumnya, dalam pimpinan Pak Edi Sudrajat, menjadi buku terpilih yang diterbitkan perdana oleh Penerbit KBU. Sayang sekali karya ini kandas karena cengkeraman monopoli  buku pelajaran di sekolah/madrasah bahkan mulai dari penyediaan kertas. Perkumpuln KerLiP didirikan pertama kali bersama orangtua siswa MI Asih Putera dan sahabat-sahabat yang dulu belajar bersama di Masjid Salman. Gerakan orangtua menembus sekolah yang ditulis oleh Mas Bambang Wisudo di Kompas pada tanggal 11 Oktober  2006 mengisahkan perjalanan awal KerLiP sampai akhirnya mendirikan SD Hikmah Teladan.

Saat bekerja menjadi manajer promosi KBU , kami menerbitkan buku Tuturus Basa karya teh Evi Syaefini yang saat itu menjabat sebagai Kepala SDN di belakang Kantor Dinas Pendidikan Kota Bandung. Pertemuan dengan Teh Evi ini ternyata menjadi hub dalam upaya kampanye dan advokasi Pendidikan Untuk Semua sampai saat ini ketika Teh Evi menjalankan amanah u tuk reformasi birokrasi di pemerintah kota Bandung dibawah pimpinan walikota terpilih.

Seperti yang Pak Zul tulis dalam bukunya, sekolah unggulan kami lebih suka menyebutnya Sekolah Berprogram Khas, adalah sekolah yang berani mendidik semua anak tanpa seleksi berdasarkan kemampua  akademik. Dalam konteks inilah kami bersentuhan dengan Pendidikan Untuk Semua. Rupanya Allah sudah membukakan jalan bagi upaya-upaya Perkumpulan KerLiP untuk memastikan setiap anak ber-GeMBIRA belajar sepanjang hayat di rumah, di sekolah/madrasah/komunitas/satuan pendidikan lainnya, di lingkungan bersama keluarga peduli pendidikan. Efektivitas keterlibatan orangtua murid di SD Hikmah Teladan terus ditingkatkan. Bu Ary Nilandari, orangtua murid memberikan dukungan dalam bentuk jajak pendapat orangtua di tahun-tahun pertama. Koperasi Syariah Darul Hikmah yang kami dirikan bersama 83 orangtua murid menjadi wahana untuk mewujudkan dukungan kedalam aksi nyata. Kisah unik grakan keluarga peduli pendidikan aku tulis atas permintaan redaksi majalah yng masuk kedalam katalog ANU-Australia National University. Rangkaian tak terpisahkan dalam upaya kampanye dan advokasi Pendidikan Untuk Semua.

Masih lekat dalam ingatan ketika mendengar Pak Edi berseloroh tentang kemungkinan aku tak bertahan lama termasuk di SD Hikmah Teladan. Menurutku ini sangt keliru, karena disinilah kupancangkan semua cita ideal tentang gerakan keluarga peduli pendidikan dalam aksi nyata Gerakan Membangun Indonesia Ramah Anak. Saat Pak Edi dan  Pak Iwan melepaskan diri dan mengibarkan Gemilang Mutafannin, aku mengajak Pak Aripin Ali bergabung, dipicu oleh masalah kesehatan istrinya di Bandung. Saat itu Pak Aripin bekerja di Darussalam, sekolah yang dibangun oleh saudara seperjuangan suamiku dan berhasil mengembangkan progtam NEM Unggul. Seingatku darisanalah Pak Aripin membawa serta Pak Zulfikri Anas yangkemudin menjadi andalan Dewan Pakar dan Penasehat Perkumpulan KerLiP. Ada 5 orang dari Puskur Balitbang Diknas yang mendukung pengembangan dan implementasi konsep Pendidikan Anak Merdeka di SD Hikmah Teladan. Prinsip tumbuh bersama demi kepentingan terbaik anak yang menjadi dasar gerakan keluarga peduli pendidikan diisi dan dikembangkan bersama untuk mendukung SD Hikmah Teladan.

Sayang sekali ketika aku membawa gerakan KerLiP ke tingkat yang lebih luas setelah mengenal Kesepakatan Dakkar tentang komitmen 181 Negara untuk memastikan 6 target Pendidikan U tuk Semua dicapai pada tahun 2015, kami terpaksa mengambil jalan masing-masing. Pak Aripin dan Pak Sandi memutuskan untuk menjadi pegawai Perguruan Darul Hikmah karena lebih meyakinkan untuk menjadi sandaran hidup. Aku sendiri mulai membawa identitas yantikerlip untuk memastikan setiap anak Indonesia menikmati hak atas Pendidikan Untuk Semua.

 

GeMBIRA bersama KerLiP

Andil Pak Zul dalam memperkuat keyakinanku untuk tumbuh bersama KerLiP tak dapat diragukan. Saat kami mencari dan mengenali konsep Pendidikan Anak Merdeka, dukungan kepakaran  Pak Zul dkk sangat berarti. Dalam perjalanan ka panye dan advokasi Pendidikan Untuk Semua termasuk ketika KerLiP mengembangkan Pendidikan Anak Merdeka sebagai pendamping Go Green School bersama Kehati, CBE dan CCFI, Pak Zul menjadi pendamping penyusunan kurikulum dan bahan ajar. Ada beberapa model kurikulum dan bhan ajar yang kami kembangka  dengn dukungan puskur balitbang diknas melalui inisiatif pak Zul. Mulai dari SETs-Sains Technology, environment and Society, kurikulum di daerah bencana, konflik, tertinggal,perbatasan sampai homeschooling. Padahal saat yang sama kampanye dan advokasi Pendidikan Untuk Semu menghantarkan KerLiP ke ranah advokasi litigasi dalam bentuk citizen law suit korban Ujian Nasional 2006, judicial review UU BHP, dst.

Saat ini, setelahmalang melintang di tingkat nasional u tuk merumuskan N,S,P,K pemenuhan hak pendidikan anak, aku mulai serius membuat jalan baru untuk memastikan semua anak ber-GeMBIRA bersama Keluarga Peduli Pendidikan. Harapanku akan tumbuh kebiasaan baru untuk membuka ruang partisipasi anak mulai dengan ragam 20 menit yang memukau setiap akhir pekan  ersama ayah bunda, aktivasi obrolan pendidikan ramah anak dalam pertemuan orangtua, murid dan guru di kelas, serta obrolan kesehatan terpadu ramah anak di dasawisma. GeMBIRA bersama KerLiP melalui ketiga langkah tersebut diharapkan akan meningkatkan efektivitas partisipasi anak dengan dukungan keluarga dalam upaya pelembagaan Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak, sekolah/madrasah yang aman, sehat, hijau, inklusi dan nyaman bagi perkembangan  fisik, kognisi, psikologi dan sosial anak perempuan danlaki-laki trmasuk anak yang memerlukan pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus. GsB MeSRAini akan dideklarasikan di jambore anak Jawa Barat pada tahun 2014.

Salam GeMBIRA

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Pak Zulfikri Anas, guru dan mentor-GeMBIRA bersama KerLiP

  1. Artikel Bu Yanti ini mengingatkan saya ke masa-masa awal saya mencari jawaban dari pertanyaan “Masih bermanfaatkah sekolah bagi kehidupan kita?”. Pertanyaan ini muncul jauh sebelum saya berkenalan dengan birokrasi pendidikan di negeri ini. Di awal 80-an, saya sama seperti teman-teman lain tidak pernah paham dengan apa yang akan saya dalami sebagai bekal hidup saya kelak, saya bingung, apakah saya mau kuliah atau tidak, jika kuliah akan mengambil jurusan apa, semua serba tidak tahu. Apa betul anak remaja masih bingung untuk memilih yang terbaik bagi hidupnya? APakah pendidikan yang ia tempuh selama ini mulai dari TK, SD, SMP dan SMA, sama sekali tidak membantu kita untuk menemukan jati diri?, Jika pendidikan tidak bisa membangun jati diri sehingga kita tidak mengenal siapa diri kita, dari mana kita, dan mau ke mana, lalu untuk apa kita menghabiskan waktu untuk menjalaninya?. Apa mungkin bersekolah itu hanya pengisi waktu? Toh setelah tamat kuliahpun kita masih mencar-cari apa yang akan dikerjakan, mau jadi pegawai, wirausaha, atau apa lagi……dalam persoalan ini, ternyata dunia pendidikan tidak mematangkan diri kita, lalu apa perlunya pendidikan?, apa perlunya sekolah?.

    Nah, pertanyaan itulah yang membuat saya dan Bu Yanti akhirnya berkenalan dan sejak itulah saya mulai menemukan jawaban, bahwa “sekolah” justeru “menghancurkan” sisi-sisi kemanusiaan, Lalu apa yang harus kita perbuat?, Ya, kita harus berbuat mengembalikan pendidikan ke makna yang sebenarnya, pendidikan itu suci, indah, inklusif, dan tidak membatasi akses bagi siapapun karena pendidikan berkewajiban melayani setiap anak manusia tanpa kecuali. Ini dijamin oleh undang-undang. Lalu apa yang menyebabkan pada akhirnya dunia pendidikan mengingkari dirinya sendiri?…..inilah yang diperjuangkan oleh Bu Yanti bersama KerLip dan jejaring yang terus menguat dari waktu ke waktu…….terimakasih Bu Yanti, dan selamat, sukses selalu…Amin

  2. Salam GEMBIRA, semoga apa yang sudah dirintis dan dikembangkan ini terus menyebar sehingga semua sekolah di negeri menjadi sekolah yang ramah anak karenanya anak selalu riang GEMBIRA, sekolah menjadi ajang atau arena dan ruang untuk berkreasi. Selamat dan sukses selalu. Amin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s