Roadshow GERASHIAGA di SMAK Rehoboth

Bahan-bahan pendidikan PRB di Dikmen baru terkirim ke Pak Zul, Kepala SMAK Rehoboth beberapa saat sebelum ojek menjemput. Wah, belum siap-siap nih! Hari ini diminta sudah hadir di sekolah jam 7 sampai jam 12. Buku-buku dari berbagai sumber yang akan dihibahkan ke SMAK rehoboth terpaksa tidak dibawa karena berita acara serah terima belum dibuat. Sms pun melayang ke Iwang untuk berkoordinasi di rumah keluarga kami pada pukul 15.00. Selain berita acara serah terima materi KIE juga p[engarsipan beberapa berkas terbaru.

Aku memasuki gerbang sekolah didampingi security ditengah lalu lalang peserta didik dan orangtua dan pengantar lainnya. Rupanya sekolah tersebut ‘ngantong”. Terlihat sangat kecil disamping gereja tapi didalam berdiri bangunan-bangunan kokoh 5 lantai lengkap dengan lapangan terbuka, kantin sehat, tempat cucitangan pakai sabun, toilet dan beberapa tanaman dalam pot.

Orangtua dan guru menyambutku dengan ramah. sapaan selamat pagi terdengar bersahutan. Menyenangkan. Aku duduk di kantor guru yang terasa begitu sederhana dibanding kemegahan bangunan dan fasilitas belajar anak. Terdengar diskusi guru Olah raga dengan Ibu Frida tentang pentingnya partisipasi anak dalam pemilihan perwakilan pramuka dan ekskul lainnya untuk kegiatan tertentu. Alhamdulillah. Pertanda baik karena prinsip-prinsip hak anak lah yang menyatukan praktik-praktik baik sekolah/madrasah nyaman, aman bencana, sehat, hijau, inklusi dan ramah anak.

Pak Zul tiba tak lama kemudian dan mengajak kami menyiapkan agenda kegiatan hari ini. Ada beberapa berkas dari internet yang disiapkan bu Frida penanggung jawab program pendidikan PRB di SMAK Rehoboth. Pak Zul menyampaikan upaya untuk menjangkau sekolah-sekolah lainnya agar bekerjasama dengan KerLiP dalam menerapkan GERASHIAGA sebagai model pendidikan PRB di sekolah masing-masing.

Kami kembali berdiskusi setelah Ibu Christina, Ketua Yayasan rehoboth hadir. Rupanya anak-anak dan guru pembimbing melaksanakan ibadat pagi untuk memulai kegiatan. Aku masuk ke ruangan di lantai 3 itu bersama Pak Zul dan Bu Christina.

Sambutan dan Pembukaan oleh Ketua Yayasan

Bu Christina memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap kepedulian KerLiP terutama dalam upaya penerapan sekolah aman dari bencana di SMAK Rehoboth. Ada 30 anak SMA duduk terpisah laki-laki perempuan ditemani beberapa guru pembimbing. Pak Zul masih menemani saat anak-anak menyanyikan lagu evakuasi gempa dengan nada lagu Pelangi-Pelangi.

Lagu dan Gerak Evakuasi Gempa

Setelah menyanyikan dua kali, kami bersama-sama mempraktikkan evakuasi gempa menuju lapangan di bawah. Beberapa catatan terkait kebutuhan SAR vertikal mulai terungkap. Kebutuhan dan rencana aksi Sekolah man SHIAGA pun disusun dan dipresentasikan per kelompok. Selingan game “Ninja Freez ” yang difasilitasi Timothy menambah asyiknya belajar dengan anak-anak SMAK Rehoboth.

LIBRA :Sudah Amankah Skeolahku: diikuti Cara Asyik Cari Tahu mengenai ancaman, kerentanan dan kapasitas dengan kata kunci Aman, Sehat, Hijau, Inklusi dan Ramah Anak. menjadi bahan ajar kami. Kelompok inklusi masih terlihat bingung. Namun secara keseluruhan semangat belajar anak-anak ini mendorong komitmen multipihak untuk menindaklanjuti dengan langkah konkrit.

bahan-bahan yang diberikan ke SMAK Rehoboth antara lain:

GERASHIAGA DI SEKOLAH_MADRASAH-29112013

LIBRA GeMBIRA dengan SESSAMA SHIAGA

17 langkah menuju Sekolah Aman SHIAGA

Diskusi di kelompok kecil ini dilanjutkan dengan Kafe Ilmu. Penjual dan pencatat tinggal di kelompok masing-masing. Pukul 10.50 kami sudah kembali memulai kegiatan di ruangan sebelumnya. Beberapa dokumentasi dengan anak-anak bisa dilihat dibawah ini

8

 219

Pendidikan PRB di SMLB

Sungguh menakjubkan melihat keceriaan anak-anak di SLB yang didirikan YPAC Bandung. Suasana yang nyaman lengkap dengan keramahan para pendidik bagi guru maupun orangtua peserta didik nampaknya sangat kondusif bagi tumbuh kembang anak-anak yang memerlukan pendidikan khusus ini.

Menarik mengetahui bahwa model pengelolaan moving class bukan hal yang baru di SLB. Desain dan penataan setiap ruang belajar yang tidak terlalu luastapi cukup memberikan ruang gerak bagi proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dan peserta didik. Saat berkeliling bersama Kepala Sekolah, kulihat setiap kelas baru terisi 2-3 anak dengan ragam usia.

ruang belajar PKN

Aksessibilitas di halaman depanRuslan sedang menepi

Dukungan keluarga peduli pendidikan

Ada yang terlewatkan saat aku mulai mempresentasikan materi PRB yang kususun semalam sebelumnya. Orangtua dan anak perlu beristirahat sebanyak waktu yang dihabiskan untuk belajar. Rentang perhatian anak-anak tuna daksa selama 30 menit membuatku berpikir keras untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran yang khas dan partisipatif.

Aku makin tergelitik untuk cari tahu lebih banyak lagi tentang pikiran dan perasaan anak-anak yang luar biasa ini. Apalagi ketika Ibu Lilis ketua Komite Sekolah memintaku untuk rehat sejenak dan menceritakan banyak kisah seputar puta-putri tercinta-nya yang luar biasa. Dikisahkan bahwa putrinya yang kini menginjak usia 18 tahun masih trauma dengan kejadian gempa Tasik 2009 . Saat itu ia sedang berada di kamarnya di lantai atas dan pindah ke lantai bawah karena takut mengalami kejadian serupa. Bukan hanya itu, putri bu Lilis ini juga trauma merasakan getaran, ketinggian dan mendengar kata gempa. Kusarankan untuk segera melalukan psikoterapi agar trauma putrinya berkurang dan hilang. Bu Lilis juga menceritakan tentang dampak kejadian tersebut pada keseharian hidupnya. Ibu yang cantik ini menunjukkan buku mewarnai tentang gempa tsunami dalam kegiatan tersebut. Bu Lilis pula yang menjadi narasumber ketika aku menggali pemodelan tentang pentingnya protap atau rencana induk simulasi.

Kami menyanyikan dan mempraktikkan  lagu Pelangi dengan lirik evakuasi gempa saat kembali belajar bersama:

Kalau ada gempa lindungi kepala

Kalau Ada gempa Jauhilah Kaca

Kalau Ada Gempa bersiaplah Antri

Berbaris keluar kumpul di lapangan

cantik yaSelain orangtua, Kepala Sekolah dengan dukungan guru-guru yang luar biasa sabar ini terlihat sangat bersemangat memfasilitasi kegiatan, menunjukkan rambu-rambu evakuasi yang sudah terpasang dan merancang rencana tindak lanjut. Beberapa materi berikut menjadi bahan paparan dilengkapi  bahan kegiatan PRB mandiri kutunjukkan  mulai dengan nonton film sekolah aman dari youtube

1. GERASHIAGA DI SEKOLAH_MADRASAH-28112013

2. LIBRA GeMBIRA dengan SESSAMA

Aku juga mendorong Bapak/Ibu guru yang luar biasa ini untuk mencoba instrumen monev yang disusun oleh BNPB bersama mitra K/L/D/I dan mitra pembangunan internasional yang mendukung pelembagaan  Seknas Sekolah Aman.

IMG_1249

Indi yang memukau

Anak-anak yang Luar Biasa

Uniknya, di SMLB ini anak-anak hanya belajar beberapa jam, bahkan ada anak yang hanya bisa masuk sekolah 2 hari dalam sepekan setelah ibundanya wafat. Dukungan keluarga dalam upaya penyelamatan jiwa di SLB menempati urutan pertama tentang siapa yang perlu membantu. Kenyataan bahwa banyak anak yang memerlukan korsi roda tidak menghalangi warga sekolah untuk belajar bersama mengenai upaya PRB di SLB.

Daden, salah satu peserta didik yang ternyata berasal dari Cianjur menyampaikan usulan yang cerdas. Ia menyarankan untuk melibatkan seluruh pegawai TU dan petugas kebersihan dan kemanan sekolah dalam satgas PB di SLB ini. Ada juga anak-anak yang ternyata tidak ditunggui oleh orangtua dan/atau kerabat.

Juga Indi yang pernah mengikuti lomba debat. Ia mengusulkan untuk fokus pada anak yang memerlukan bantuan penyelamatan diri. Usulannya adalah memastikan para laki-laki dewasa untuk belajar bersama anak-anak Luar Biasa ini tentang cara yang paling nyaman dan aman membantu evakuasi.

Ketersediaan kursi roda didepan pintu ruang belajar/kegiatan menjadi usulan bersama agar ikrar aman menyelematkan jiwa benar-benar mudah dilakukan bersama ketika terjadi bencana.

 

Sosialisasi dan Advokasi Sekolah Ramah Anak

Alhamdulillah, upaya untuk mendorong peningkatan peran serta peserta didik dalam penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana melalui bansos pendidikan PRB sebagai langkah awal sosialisasi dan advokasi Sekolah Ramah Anak langsung di tingkat sekolah/madrasah terus menguat. Komunikasi intensif dengan Sekjen AKSI dan sosialisasi kepada 170 penerima bansos dari Kemdikbud menjadi pembuka yang baik. Pendampingan langsung siap dilaksanakan atas permintaan Kepala Sekolah di SMANSA dan SMAK Rehoboth, SMLB milik YPAC di Kota Bandung mulai 21 November 2013.

Penguatan jejaring

Pertemuan dengan Susan saat beliau bekerja di Child Fund menjadi perantara perluasan penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana ke Sekolah Ramah Anak. Syukur alhamdulillah ketiga strategi penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana juga diadopsi kedalam pedoman penerapan Sekolah ramah Anak yang kami susun bersama Asdep Pemenuhan Hak Pendidikan Anak Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.  Pengertian Sekolah Ramah Anak pun berhasil diramu dari ketiga strategi tersebut.  Sekolah Ramah Anak adalah sekolah/madrasah yang aman, bersih, sehat, hijau, inklusif dan nyaman bagi perkembangan fisik, kognisi dan psikososial anakperempuan dan anak laki-laki termasuk anak yang memerlukan pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus.

Upaya kami untuk memperkuat sosialisasi dan advokasi pendidikan PRB bersama Konsorsium Pendidikan Bencana juga mulai menunjukkan langkah yang lebih strategis. Kekhasan KPB dalam menyediakan materi Komunikasi, Informasi dan Edukasi hasil belajar bersama warga sekolah/madrasah dampingan masing-masing anggota serta rencana pembentukan Pusdiklat Fasilitator Pendidikan PRB terutama di sekolah/madrasah akan sangat membantu ketercapaian penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari bencana secara non struktural. KPB juga sepakat untuk mendorong Planas PRB menuntaskan Panduan Monev Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana hasil koordinasi saat Sekretariat Nasional Sekolah Aman dipimpin KerLiP untuk memperkuat berbagai inisiatif Pendidikan PRB terutama di Jakarta. Selengkapnya silakan  simak di  Bhs Indonesia – TOR CDE workshop – evaluasi akhir tahun dan rencana 2014 (1) dan Draft Notulen Diskusi KPB 22 Nov 2013. Panduan Monev yang akan difinalisasi dalam pertemuan KPB tanggal 27 November dapat didownload disini cover panduan sekolah amanDraft Panduan Monev Sekolah AmanLampiran 1- Instrumen STRUKTURALLampiran 2- Instrumen NON STRUKTURALLampiran 3-Kuesioner Monev Sekolah Aman_SDM-WBLampiran 4-Instrumen Penilaian Kerentanan Bangunan sekolah oleh Ahli Bangunan,

Kami akan sangat berterimakasih kepada semua pihak yang berkenan membantu memberikan masukan perbaikan.

Pengantar panduan monev Pak Sugeng ttd

Selain dengan KPB, penguatan jejaring di Education Cluster yang dilakukan Yuni dan kawan-kawan dari Save The Children, Dompet Dhuafa, MPBI, Child Fund dengan Kemdikbud juga terus menambah harapan penerapan Sekolah Ramah Anak melalui Sekolah Aman Komprehensif.

Kemitraan khas KerLiP dengan perkumpulan SKALA juga terus menguat. Kami berencana untuk memperkuat kerjasama dengan perpustakaan Nasional dalam upaya pelatihan bagi pengelola perpustakaan dalam sosialisasi dan advokasi Adaptasi Perubahan Iklim (API)-PRB terutama untuk Anak Usia Dini bekerjasama dengan Perpustakaan Belanda. Peran strategis Rini pimpinan SKALA yang juga sekretaris PLANAS PRB akan turut memperkuat penerapan SRA melalui penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana.

Mobilisasi Sumber Daya

Mobilisasi sumber daya internal KerLiP juga terus diarahkan agar target sosialisasi dan advokasi Sekolah Ramah Anak terus meluas. Upaya penjangkauan peserta didik madrasah secara intensif kami laksanakan dengan menempatkan Aas di sekretariat PMU Kemenag untuk mengawal terlaksananya Pembangunan dan Pengembangan MAN Insan Cendekia di 20 provinsi sebagai model madrah nyaman, aman bencana, sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup, inklusi dan ramah anak termasuk bagi anak yang memerlukan pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus.

OPERA, obrolan pendidikan ramah anak kami laksanakan secara spontan bersama berbagai komunitas di Dago Car Free Day termasuk Fokus.  Hari ini, hari jadi PGRI bertepatan dengan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Dalam Obrolan Pendidikan Ramah Anak (OPERA) yang kedua bersama Forum Ketua OSIS (FOKUS) Kota Bandung di Dago Car Free Day dibicarakan peran penting OSIS untuk membuka Posko Informasi dan Komunikasi seputar Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap perempuan terutama di usia anak sekolah untuk anak perempuan dan laki-laki yang mengalami atau menemukan atau mengenali kekerasan yang terjadi di sekolah/madrasah. Seluruh informasi yang diterima oleh para ketua OSIS ini akan menjadi bahan kajian tentang Pendidikan Anti Kekerasan dan Cinta Damai untuk Tutor Sebaya. Upaya ini dilakukan untuk menggiatkan Gerakan Membangun Indonesia Ramah Anak bersama Keluarga Peduli Pendidikan dengan merevitalisasi OSIS sebagai perintis Sekolah Ramah Anak dengan menerima pengaduan dan informasi di Bulan Anti Kekerasan tahun 2013.

Azizah, Marcha, Fida dan Diyni, 4 mahasiswa Kesos UI yang praktikum di KerLiP juga intens melakukan pendampingan di sekolah/madrasah masing-masing. Hasil belajar bersama yang mereka laksanakan diharapkan menjadi model piloting kemitraan anak dan kawula muda dalam  penerapan GERA SHIAGA di sekolah/madrasah.

Saat ini, Iwang juga sudah menyelesaikan rekapitulasi Agenda surat masuk 2013 dan Yenni untuk Surat Keluar bersamaan dengan upaya untuk memisahkan pengelolaan Perkumpulan KerLiP dengan keluarga. Kami baru saja memilah berbagai materi KIE untuk ditempatkan di Perpustakaan sekaligus sekretariat KerLiP di Bandung dalam pimpinan Bendahara II, Achmad Jejen, rintisan Pusdiklat KerLiP bekerjasama dengan Pesantren Ath Thariq Garut, dan janji mengirim ragam pustaka ke TBM milik ibu Herni Suminar di Lembang. Aas juga siap untuk menuntaskan magang di kemenag sampai Desember 2013 dan menjangkau Kemkes serta BKKBN dan aktivasi kantor KerLiP di Jakarta untuk dukung pelembagaan GERA SHIAGA Institut oleh Vivi. Mario dan Aldis siap memperkuat pemodelan SAnDi KerLiP. Fitry juga sepakat untuk mengalihkan beberapa inisiatif yang semula dikelola Green Smile Inc. ke GERA SHIAGA Institut dalam pimpinan Vivi. Fitry juga antusias menyiapkan radio live streaming untuk liputan GeMBIRA di CFD diselingi senam aerobik bareng di radio dan testimoni berbagai komunitas anak dan kawula muda selama CFD berlangsung.

Insya Allah akhir tahun 2013 ini, Gerakan Membangun Indonesia Ramah Anak bersama Keluarga Peduli Pendidikan dipancangkan agar lebih banyak lagi anak perempuan dan laki-laki termasuk anak yang memerlukan pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus yang menikmati hak hidup bermartabat terutama hak atas pendidikan dan hak-hak anak.

bismillah tawakkaltu alallah laa hawla walaa quwwata illa billahil aliyyil azhiim.

Indahnya Berbagi

Email Hening, Direktur HFI  yang meminta model presentasi Sekolah Aman mengingatkanku pada sasaran utama GERASHIAGA melalui YES at School 2013 berikut:

  1. 100% Sekolah penerima Bansos Sekolah Aman
  2. 20 Sekolah Penyangga
  3. 180 Sekolah Aman Piloting 2011-2012
  4. 25.000 Sekolah/ Madrasah mitra anggota Konsorsium Pendidikan Bencana, Seknas Sekolah Aman dan Education Cluster.

Alhamdulillah, kebiasaanku menuliskan narasi dan melampirkan bahan presentasi dan rujukan terkait dalam file aslinya ternyata memudahkan model penyebaran GERASHIAGA.

Rasa syukur ini makin membuncah membaca postingan Arlian Puri, penerima anugerah BNPB 2013 yang menjadi sumber inspirasi tiada henti bagi Gerakan Aman, Sehat, Hijau, Inklusi dan Ramah Anak dengan dukungan keluarga (GERASHIAGA) yang digagas bersama Arlian dan kawan-kawannya dalam rintisan pelembagaan Gerakan Siswa Bersatu (GSB) Menuju Sekolah Aman (MSA) di SMPN 11 Bandung. Sahabat KerLiP dapat menyimak  di Kabar GERA SHIAGA_01_Juni2012-tambahlogo tentang Gerakan Siswa Bersatu di SMPN 11 Bandung. Ada 17 langkah penerapan GERA SHIAGA yang dilaksanakan KerLiP di SMPN 11 Bandung yang dapat diadopsi dari hasil belajar bersama anak-anak yang hebat ini.

Kini langkah-langkah penerapan GERA SHIAGA disebarluaskan melalui sosialisasi dan advokasi yang dilakukan Sahabat-Sahabat KerLiP termasuk Arlian dan kawan-kawan barunya di SMAN 8 Bandung.

Anak-anak Sumber Inspirasi

Aku sedang bersiap memenuhi permintaan pak Gumilar dari BP3AKB Provinsi Jabar untuk koordinasi persiapan Pelatihan Tutor Sebaya untuk Pencegahan dan penanganan Kekerasan terhadap Anak di sekolah/Madrasah, saat telpon dari Pak Zulkarnain, Kepala SMAK Rebohoth Bandung kuterima. Rupanya sekolah tersebut menerima bantuan sosial Pendidikan PRB dari Dit PK-LK Ditjen DIkmen Kemdikbud. Beberapa bahan yang pernah dijadikan instrumen belajar bersama Duta Anak untuk Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana dari MANSABA dan GSB MSA dan GSB MeSRA SMPN 11 Bandung aku bawa melengkapi bahan pendidikan anti kekerasan dan cinta damai Untuk Para Guru (1) hasil terjemahan Nurul Fitry Azizah, Direktur Green Smile Inc. Bahan ajar Panduan Ragam 20 Menit yang Memukau_Pendidikan Anti Kekerasan sedikit dimodifikasi untuk memberikan gambaran model kafe ilmu yang akan kubawakan untuk memfasilitasi kegiatan pelatihan yang akan menyertakan 100 anak-anak terbaik dari SMA/SMK/MA di Kota Bandung.

Pak Gumilar dan Bu Eni, Kabid KPA BP3AKB, akhirnya mencatat dan setuju mengundang Arlian Puri, Amilia Agustin dan Ria Putri Ramadhanti dalam kegiatan pelatihan tersebut. Bahkan ketiganya akan diundang juga dalam kegiatan APHE tanggal 25 November 2013. Alhamdulillah. Anak-anak juara yang selalu menjadi sumber inspirasi ini akan ditemani anak-anak dari sekolah/madrasah dalam jejaring AKSI, FOKUS dan Forum Anak.

Dalam rapat koordinasi persiapan tersebut hadir juga Win dari IOM yang siap bersinergi dalam memfasilitasi kegiatan yang digagas oleh BP3AKB Provinsi Jabar. Bu Eni memintaku untuk menyampaikan undangan informal kepada pengurus AKSI agar menyiapkan perwakilan anak-anak didiknya dalam kegiatan pelatihan tersebut.

Perluasan dampak

Pak Zul sedang duduk bersama satpam SMANSA Kota Bandung saat aku tiba disana. Kami segera kedalam menemui Pak Audi. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 saat pembicaraan mengenai persiapan Pendidikan PRB di SMAK Rehoboth dan SMANSA Kota Bandung dimulai. Berkali-kali aku menyayangkan keputusan guru SMAN 8 Kota Bandung untuk tidak mengirimkan proposal bansos pendidikan PRB kepada Dit PK-LK DItjen Dikmen Kemdikbud. Tantangan besar bagi Arlian untuk mewujudkan GERASHIAGA club sebagai ekstrakurikuler di SMAN 8 Bandung. Beberapa file yang sempat aku cetak seperti MODEL RENCANA INDUK SIMULASI BANJIR DI SEKOLAH_MADRASAHpengelolaan anggaran bansos dan pembelajaran GERA SHIAGA DI SEKOLAH_MADRASAH menjadi bahan koordinasi persiapan kali ini.

Rupanya Pak Zul sudah membentuk Satgas PB sebanyak 40 orang dari anggota OSIS SMAK Rehoboth dan siap untuk mengadakan simulasi tanggal 12 Desember 2013. Kami sepakat untuk menyiapkan lokakarya penyusunan Rencana Induk Simulasi sebagai bagian dari Rencana Kontingensi pada tanggal 29 November 2013. Sudah bisa dipastikan aku membatalkan pengajuan diri untuk menjadi fasilitator cadangan dalam pelatihan penyusunan Rencana Kontingensi di lampung bersama contingency plan working group yang dikoordinasikan Mbak Titi UNOCHA bersama BNPB.

Beberapa kali kutekankan tentang peran penting peserta didik dalam pendidikan PRB ini  untuk melembagakan aktivitas Pengurangan Resiko bencana di sekolah/madrasah dan menjadi tutor sebaya sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan anak-anak.

Pak Audi, pembina OSIS SMANSA mengantarku ke gerbang sambil menyampaikan tentang penjdwalan pendampingan di SMANSA Kota Bandung. Kutegaskan bahwa anak-anak yang melaksanakan YES for Safer School/Madrasah pada tanggal 9 Oktober 2013 lalu dapat menjadi fasilitator dalam penerapan GERA SHIAGA di SMANSA Kota Bandung.

Ada beberapa hal yang disepakati dengan pak Zul yang juga Sekjen Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia. Selain pendampingan juga rencana perluasan dampak melalui kerjasama Perkumpulan KerLiP dengan AKSI yang akan disiapkan di Jakarta atau Solo dengan menghadirkan Bapak Mendikbud. Pada kesempatan langka tersebut, Pak Zul akan mengundang seluruh kepala sekolah yang bergabung di AKSI untuk mengikuti sosialisasi Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana terintegrasi dengan Sekolah/Madrasah Aman dari Kekerasan, Sehat, Hijau, Inklusi dan Ramah Anak dengan dukungan Keluarga.

Perkembangan yang menggembirakan ini juga menambah keyakinanku bahwa sasaran utama 2013 akan tercapai melalui berbagai cara. Sosialisasi dan Advokasi melalui Dit PK-LK ditjen Dikmen, Subdit Sarpras Ditma Ditjen Pendis Kemenag, Setditjendikdas, DitP2B Ditjen PUM Kemdagri, BNPB, penguatan jejaring dengan Planas PRB melalui Perkumpulan Skala, p[enguatan jejaring dengan Education Cluster melalui Save The Children, Child Fun., MDMC dan Dompet Dhuafa. Alhamdulillah proses penguatan jejaring dengan Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB) juga siap dilaksanakan dalam lokakarya besok di kantor UNOCHA. Kabar gembira lainnya juga kuperoleh melalui Dini Mentari tentang 700 guru alumni HMPK ITB yang siap mendukung peningkatan mutu pendidikan terkait kurikulum 2013. Juga komunikasi khas dengan HOPE yang berpengalaman menjangkau ribuan guru di Indonesia Timur, Plan, UNICEF, UNESCO dan mitra pembangunan lokal, nasional dan internasional.

Indahnya berbagi…seluruhnya kupersembahkan demi kepentingan terbaik anak. Insya Allah

Rapat Koordinasi PMU Ditma Ditjen Pendis Kemenag RI

Alhamdulillah, adzan magrib berkumandang saat taxi yang membawakukeluar dari bandara Adi Sucipto DIY  berhenti sejenak menunggu KA lewat. Bu Ida dan Aas bergantian mengabarkan jika di Hotel tersedia buka shaum. Malam ini pembukaan rapat koordinasi Pendidikan menengah Universal (PMU) melalui Pembangunan dan Pengembangan MAN Insan Cendekia di Indonesia akan dilaksanakan sesuai dengan jadwal acara (1) yang kuterima.Ini yang keduakalinya berdecak kagum menyimak sambutan pembukaan dari Direktur Ditma Ditjen Pendis Kemenag. Seperti biasa langsung disebar menjadi status facebook  malam itu juga

Belajar ilmu tajwid dari Direktur Ditma Ditjen Pendis Kemenag : 5 hukum tajwid saat nun mati atau tanwin menghadapi huruf hijaiyyah dikaitkan dengan PMU. Buku Hidayatussibyan : ilmu tajwid dasar menyebutkan Izhar, idghom ma’al ghunnah, bighoiri ghunnah, ikhfa’ dan Iqlab.

1. Izhar : Perlu upaya diversifikasi madrasah. 91%madrasah dr 72.000 dikelola masyarakat. Keberadaan, lokasi, situasi, potensi yang beragam memerlukan terapi dan solusi yang berbeda. Izhar menjadi basis diferensiasi madrasah. Insan lebih tinggi dari basyar, kreator peradaban. Cendekia diadopsi dari zakkyyun…cerdas. MAN Insan Cendekia mendidik anak menjadi kreator peradaban yang cerdas dan mencerdaskan.
2 dan 3 Idghom: kombinasi, strategi penggabungan kebijakan di Madrasah reguler lainnya.
4. Iqlab : dibalik, dihilangkan, ruwatan besar2an laa yamuutu walaa yahya. Madrasah banyak yang tertatih-tatih untuk berkembang dengan baik tapi jangan sampai ditutup. Melalui PMA yang baru ada hal yang diperbaiki secara sistemik, maka madrasah seperti ini mungkin bisa digabungkan atau kebijakan lainnya yang sesuai.
5. Ikhfa, samar, tidak tegas, perlu kearifan melalui diversifikasi, kontrak prestasi harus diarahkan untuk mengawal keberadaan madrasah lebih baik. Contoh madrasah elektronic library di NTB dibantu dengan pembelian server dan dijadikan mitra oleh Ditma Ditjen Pendis. Madrasah Techno Natura dg kemitraan khas menjadi piloting. Juga madrasah yang keukeuh dengan kajian keagamaan seperti nahwu shorof juga diberi pembinaan khusus. Ini memperkaya sebagai center of excellent saat orangtua murid menghendaki anaknya tumbuh kembang dengan kekhasan tertentu, tersedia pilihan yang sesuai. Diharapkan tumbuh budaya fastabiqul khoirot. Melalui strategi yang mengadopsi ilmu tajwid tadi akan melahirkan keterkaitan antara ilmu-ilmu yang dikembangkan ulama sebagai sumber inspirasi pengembangan madrasah.

Beberapa informasi terkini mengenai perkembangan Pendidikan Madrasah di DIY juga sambutan dari Ketua panitia, Kasubdit Sarpras  Ditma Ditjen Pendis Kemenag RI melengkapi proses pembukaan.

sambutan Bu Ida

Sosialisasi Kebijakan Sekolah Ramah Anak dalam Rakor Ditma Kemenag

Tidak mudah mendorong kebijakan dan praktik-praktik baik pemenuhan hak pendidikan anak dalam penyusunan Norma, Standar, Prosedur dan kriteria terutama di kementerian Agama. Sebagaimana yang disampaikan Pak Direktur, Lebih dari 91% Madrasah diselenggarakan oleh Masyarakat yang peduli pendidikan dengan modal keyakinan kuat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Banyak sekali madrasah yang akan kesulitan memenuhi standar nasional pendidikan karena keterbatasan sumber daya masyarakat. Dalam hal ini diperlukan N,S,P,K yang dapat mendorong peningkatan mutu pendidikan namun juga mudah untuk diterapkan oleh warga madrasah.

Pada awal keterlibatanku dalam penyusunan Pedoman ini adalah untuk mendorong adanya Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Madrasah dan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Madrasah yang menegaskan keberpihakan terhadap kearifan lokal. Namun karena bersamaan dengan advokasi penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana yang melibatkan berbagai Kementerian/Lembaga dan Instansi terkait lainnya, aku lebih fokus untuk mendukung upaya sinergi yang diusung oleh Sekjen Kemenag. Pada saat yang sama aku juga mendengar bahwa akreditasi madrasah sedang digenjot bersama Ausaid sedangkan peningkatan mutu melalui program MEDP yang didukung dengan ADB turut mendorong lahirnya Madrasah Riset yang diluncurkan Bapak Menteri Agama di Lombok pada awal  September 2013. Paparan Pak Abu Amar sebagai penyusun utama Pedoman MAN Insan Cendekia menyampaikan tentang diversifikasi MAN Insan Cendekia langsung sebagai madrasah unggul tidak bertahap mulai dari SPM menyadarkanku akan adanya bias persepsi dalam proses advokasi pemenuhan hak pendidikan anak yang kuusung di kemenag.

Syukur alhamdulillah NOTA KESEPAHAMAN_27082013_menyusul Kemdagri_tandatangan terpisah yang ditandatangani antar Sekjen pada tanggal 20 Agustus 2013 dalam tujuannya menyatakan bahwa  PARA PIHAK terlebih dahulu menerangkan bahwa:

  1. untuk menyediakan Pendidikan Menengah Universal yang berkualitas dengan biaya terjangkau PIHAK KESATU akan membangun dan mengembangkan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia di Indonesia.

  2. pembangunan dan pengembangan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam huruf a diarahkan untuk menyediakan Pendidikan Menengah Universal yang aman bencana, sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup, inklusi, dan ramah anak termasuk anak yang memerlukan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus.

  3. untuk membangun dan mengembangkan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam huruf b perlu mendapat dukungan dan kerja sama dari PARA PIHAK.

Secara khusus seusai pembukaan, aku diminta untuk memfasilitasi Rapat Koordinasi bersama Kementerian/Lembaga yang mendukung PMU melalui Pembangunan MAN Insan Cendekia menindaklanjuti Note Kesepahaman tersebut. Kesempatan bagiku untuk mulai menggiatkan GeMBIRA bersama KerLiP melalui penerapan Sekolah Ramah Anak di MAN Insan Cendekia.

Menariknya jum’at pagi ini Rakor  dimulai dengan senan bersama selama 1 jam. Fasilitator, Narasumber, Peserta dan Panitia bersama-sama menguras keringat dan mengikuti Rapat Koordinasi dengan kesegaran baru.

Bahan Presentasi SRA di Madrasah di Yogya  yang kususun dari bahan presentasi Ibu Ninin-dulu Asdep Pemenuhan Hak Pendidikan Anak, Deputi Tumbuh Kembang Anak KPP=PA, Permendikbud permen_tahun2013_nomor80 tentang PMU, Indikator KLA Bidang pendidikanPermendikbud tentang Pendidikan Layanan Khusus serta Laporan Foto Essay YES for Safer School di MANSABA kupaparkan secara lugas selama 15 menit menjelang Jum’atan.

Rapat Koordinasi dikelompokkan menjadi 3 bagian :

1. Rakor antar Kementerian/Lembaga yang aku fasilitasi bersama Pak Abu Amar untuk menyusun Instrumen Monev bersama

2. Rakor Perkembangan PMU yang diikuti Penanggung Jawab PMU dan Pembangunan MAN Insan Cendekia dari 20 provinsi untuk verifikasi perkembangan pelaksanaan program di daerah sebagai bahan penyusunan rencana alokasi anggaran tahun 2014 difasilitasi oleh konsultan perencana, Bu Mardiana

3. Rakor Perkembangan program Sarpras Ditma Ditjen Pendis Kemenag uang diikuti para kasudbitsarpras.

Rakor antar kementerian/lembaga diikuti oleh:

1. Ibu Retno, Mas Aga dan Ibu Nurul dari BPN

2. Ibu Elin dari Kemdagri

3. Ibu Ayu dari Biro Keuangan Kemenag

Dalam Rakor tersebut mengemuka beberapa peraturan perundang-undangan terkait pengadaan lahan untuk kepentingan umum dengan APBN/APBD :

1. UU_NO_2_2012 dengan catatan masih dicari hasil  Judicial Review UU No. 2 Tahun 2012 ke Mahkamah Konstitusi oleh SPI-Karam Tanah

Sementara itu, Gunawan dari  Indonesian Human Rights Committee For Social Justice (IHCS) menjelaskan bahwa UU No. 2/2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, tidak sinkron antara judul dengan isi batang tubuh sehingga bertentangan dengan Pasal 1 (3) Undang-Undang Dasar 1945, saling bertentangan, yang mengakibatkan ketidakpastian hukum dan bertentangan dengan Pasal 28D (1) Undang-Undang Dasar 1945, tidak dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Bertentangan Dengan Pasal 33 (3) Undang-Undang Dasar 1945, dan tidak menjamin perlindungan dan penghormatan hak asasi manusia Bertentangan Dengan Pasal 28A; Pasal 28G (1); Pasal 28H (1) dan (4) Undang-Undang Dasar 1945.

dikutip dari http://www.spi.or.id/?p=5051

2. Perpres_no_71_th_2012 tentang  PENYELENGGARAAN PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN  UNTUK KEPENTINGAN UMUM

3. PERATURAN-KEPALA-BPN-RI-NOMOR-5-TAHUN-2012 tentang PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH

4. Peraturan Mendagri  permen_no.72_th_2012 tentang  BIAYA OPERASIONAL DAN BIAYA PENDUKUNG PENYELENGGARAAN PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM YANG BERSUMBER DARI  ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH

5. PERATURAN-MENTERI-KEUANGAN-NOMOR-13-PMK-02-2013-TAHUN-2013 tentang  BIAYA OPERASIONAL DAN BIAYA PENDUKUNG PENYELENGGARAAN PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

Sosialisasi Kebijakan Sekolah Ramah Anak di Hari Sumpah Pemuda

———- Forwarded message ———-

From: Irwanagung Nugraha <irwan_agungnugraha@yahoo.com>
Date: 26 October 2013 09:14
Subject: Surat Undangan dan Jadwal SRA di Garut
To: “yantikerlip@gmail.com” <yantikerlip@gmail.com>

Email diatas saya terima setelah menerima telpon dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak saat mengikuti Focus Group Discussion di Ruang Sidang Majelis Wali Amanat IPB mengenai Strategi nasional Pelaksanaan Pendidikan Layanan Khusus. Saya langsung menyetujui permintaan Bu Ninin-dulu Asdep Pemenuhan Hak Pendidikan Anak kini Asdep PUG di KPP-PA=untuk mewakili pak Deputi. Ibu Asdep yang menggantikan Bu Ninin, baru selesai prajabatan sehingga perlu waktu untuk mempelajari proses peralihan jabatan tersebut. Sejak tahun 2011, aku diminta Asdep PHPA untuk membantu menyusun Pedoman Penerapan Pendidikan Ramah Anak kemudian mengerucut menjadi Sekolah Ramah Anak. Sebelumnya kami bersikeras untuk mengusung Pendidikan Ramah Anak karena makna sekolah sudah identik “hanya’ pendidikan formal sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Namun, karena Sekolah Ramah Anak ini sudah dinyatakan sebagai salah satu indikator dalam Permeneg PP-PA terkait Kabupaten/Kota Layak Anak khususnya klaster IV : Pendidikan, Waktu Luang, Budaya, maka kami akhirnya menyusun kebijakan terkait Sekolah ramah Anak.

Proses penyusunan kebvijakan Sekolah Ramah Anak berjalin kelindan dengan proses sinkronisasi kebijakan dalam penyusunan Perka BNPB no 4/2012 tentang Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana yang kami usung bersama multipihak dari kementerian/Lembaga/Daerah/Instansi (K/L/D/I) dan mitra pembangunan lokal, nasional dan internasional. Hal ini mengakibatkan proses penelusuran kebijakan dan anggaran terkait pemenuhan hak pendidikan khususnya pada usia sekolah menjadi saling terkait satu sama lain. Kami pun akhirnya sepakat untuk mendefinisikan Sekolah Ramah Anak sebagai Sekolah/Madrasah aman, bersih, sehat, hijau, inklusi dan nyaman bagi perkembangan fisik, kognisi, psikososial anak perempuan dan laki-laki termasuk anak yang memerlukan pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus. Definisi ini disepakati dalam berbagai pertemuan koordinasi yang melibatkan K/L/D/I untuk memperkuat tujuan penyusunan Pedoman yang dulu disebut Petunjuk Teknis, yaitu Optimalisasi kebijakan dan anggaran yang sudah diatur oleh pemerintah, pemerintah daerah dan mitra pembangunan lainnya.

Proses tersebut saya sampaikan saat presentasikan bahan hasil update dari bahan presentasi waktu di padang, tanggal 18-19 september 2013 bersama Asdep perlindungan Sosial Anak yang baru diangkat dan dulunya Pokja Penyusun Pedoman penerapan SRA, ibu Maydian dan Pak Uddin dari Asdep PHPA Deputi TKA-KPP-PA. Kali ini ceritanya agak lengkap karena saya diminta mewakili Deputi TKA KPP-PA. Bahan presentasi sebanyak 54 slide saya paparkan satu per satu dilengkapi dengan keterangan yang diambil dari draft final pedoman Penerapan SRA. Saya menjelaskan 5 indikator Klaster IV yang saling berkaitan dalam Penerapan Sekolah Ramah Anak yang dinyatakan dalam PermenegPP-PA no 12 tentang Kabupaten/Kota Layak Anak. data PDSP Kemsos 2010 yang kami peroleh dalam rapat koordinasi yang diselenggarakan Dit PK-LK Ditjen Dikmen sebelumnya mengenai hambatan dan jumlah anak yang belum menikmati hak atas pendidikan menjadi pembuka. Data tersebut menggugah kesadaran kritis kita semua, bahwa masalah aksesibilitas pendidikan terutama di PAUD dan Menengah masih harus diadvokasi agar semua anak dapat menikmati hak atas pendidikan.

Permendikbud mengenai Pendidikan Menengah Universal pun saya sampaikan dalam presentasi lengkap dengan proses terkini mengenai kebijakan Pendidikan Layanan Khusus yang diatur dalam Permendikbud No 72 tahun 2013 yang di Ditjen Dikmen sedang diperjelas kedalam Pedoman pelaksanaan PLK dan panduan penyelenggaraan sekolah kecil, sekolah darurat, sekolah terintegrasi dan sekolah terbuka.

Syukur Alhamdulillah, sejak diamanati menjadi ketua Sekretariat Nasional Sekolah Aman, saya cukup intensif berhubungan dengan sosialisasi dan advokasi Pemenuhan hak Pendidikan Anak khususnya di Pendidikan menengah, baik di kemdikbud maupun kemenag. Saat narasi ini ditulis, saya sedang menyiapkan bahan presentasi mengenai skeolah/madarsah aman drai bencana untuk memenuhi undangan dari subdit sarpras Ditma Ditjen Pendis Kemenag. Kami cukup intens mengal Pedoman Pembangunan dan Pengembangan MAN Insan Cendekia sebagai pengganti MBI dan menjadi model koordinasi penyelenggaraan PMU untuk menyediakan madrasah yang nyaman, aman bencana, peduli dan berbudaya lingkungan hidup, inlusi dan ramah anak termasuk anak yang memerlukan pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus. Koordinasi awal sudah menghasilkan Nota Kesepahaman yang ditandatangani Sekjen kemenag, Sekjen kemPU, SekMen KLH,  Sestama BNPB, Sestama BPN, Sekjen Kemkes serta masih menunggu perbaikan untuk ditandatangani Sekjen Kemdagri.

Seluruh perkembangan yang menggembirakan tersebut menjadi pelengkap bahan presentasi yang saya sampaikan. Saya juga menyampaikan tentang bantuan penyelenggaraan pendidikan PRB bagi sekolah menengah yang berada di daerah bencana yang dikeluarkan oleh Kasubdit Program dan Evaluasi Dit PK-LK Ditjen Dikmen Kemdikbud ahun 2013. Juga mengenai BOS SMA/SMK yang merupakan perwujudan dari PMU. Sepintas saya tunjukkan hasil review draft final pedoman pelaksanaan PLK di Dikmen yang sedang saya tuntaskan saat undangan untuk berangkat ke Garut diterima.Sayang sekali peserta dari berbagai sekolah tidak hadir tepat waktu karena kegiatan Sumpah pemuda di sekolah masing-masing. Namun respon dari audiens cukup menggembirakan. Perwakilan kepala Sekolah dari Kabupaten tasik menyampaikan tentang beberapa hal terkait kegembiraannya mengikuti sosialisasi tersebut dan tantangan serta hambatan yang mungkin muncul mengingat PMU juga baru saja digulirkan. Respon kedua dari BP3AKB Kabupaten Garut yang menyampaikan tentang pentingnya perlindungan bagi guru terkait penerapan SRA serta fungsi BP3AKB dan pertanyaan mengenai peserta kegiatan sekaligus usulan baik mengenai pentingnya mengundang UPTD di tingkat kecamatan.

Respon dari peserta ini menjadi pembuka untuk menyampaikan kembali tujuan pedoman tersebut disusun dengan mempertimbangkan aktivasi Gugus Tugas Kabupaten/Kota Layak Anak khususnya klaster IV untuk memastikan adanya SRA di setiap kota/kabupaten dalam upaya menuju Kabupaten/Kota Layak Anak.

Selengkapnya bahan presentasi bisa diambil disini Bahan Presentasi SRA di Garut 2013

Ringkasan kegiatan Peluncuran GeMBIRA bersama KerLiP bersama SMPN Terbuka GAPURA di SMANSA Dago Car Free Day 13 Oktober 2013

Simak disini Laporan Lengkap Foto Essay GeMBIRA bersama KerLiP untuk GAPURA-15102013

juga bisa dilihat disini  http://www.flickr.com/photos/isdr/sets/72157634649035180/with/10261624526/

1.   Latar Belakang

Pendidikan adalah sebuah hak asasi sekaligus sebuah sarana untuk merealisasikan hak-hak asasi manusia lainnya.  Sebagai hak pemampuan, pendidikan adalah sarana utama bagi setiap orang termasuk anak-anak yang mengalami hambatan secara ekonomi, sosial dan geografi untuk tumbuh kembang mandiri termasuk untuk berpartisipasi dalam pembangunan berkelanjutan.

Pendidikan memiliki peran penting untuk memberdayakan perempuan, melindungi anak-anak perempuan dan laki-laki dari eksploitasi kerja dan eksploitasi seksual yang berbahaya, mempromosikan hak asasi manusia dan demokrasi, melindungi lingkungan hidup, dan mengendalikan pertumbuhan populasi.

Pendidikan  pun diyakini sebagai salah satu investasi finansial yang paling baik dan tersedia bagi Negara dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI). Pikiran yang cerdas, cerah, aktif, kreatif, inovatif, kritis dan peduli  adalah salah satu kebahagiaan dan imbalan yang didapat dari eksistensi sebagai manusia yang hanya bisa diperoleh melalui pendidikan.

Orang tua, keluarga, dan masyarakat bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara hak asasi anak sesuai dengan kewajiban yang dibebankan oleh hukum. Demikian pula dalam rangka penyelenggaraan perlindungan anak, negara dan pemerintah bertanggung jawab menyediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi anak perempuan dan laki-laki termasuk disabilitas dan di daerah rawan bencana, terutama dalam menjamin pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal dan terarah.

Undang-undang  Perlindungan Anak menegaskan bahwa pertanggungjawaban orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara terus-menerus demi terlindunginya hak-hak anak. Rangkaian kegiatan tersebut harus berkelanjutan dan terarah guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial. Tindakan ini dimaksudkan untuk mewujudkan kehidupan terbaik bagi anak yang diharapkan sebagai penerus bangsa yang potensial, tangguh, memiliki nasionalisme yang dijiwai oleh akhlak mulia dan nilai Pancasila, serta berkemauan keras menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan negara.

Upaya perlindungan anak perlu dilaksanakan sedini mungkin, yakni sejak dari janin dalam kandungan sampai anak berumur 18 (delapan belas) tahun. Bertitik tolak dari konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh, dan komprehensif, undang-undang ini meletakkan kewajiban memberikan perlindungan kepada anak berdasarkan asas-asas sebagai berikut :

  1. nondiskriminasi;
  2. kepentingan yang terbaik bagi anak;
  3. hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan
  4. penghargaan terhadap pendapat anak.

Dalam melakukan pembinaan, pengembangan dan perlindungan anak, perlu peran masyarakat, baik melalui lembaga perlindungan anak, lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dunia usaha, media massa, atau lembaga pendidikan. Pemerintah Kota/Kabupaten berperan penting dalam menerapkan prinsip-prinsip hak anak dengan dukungan semua pihak terutama keluarga.  Pembangunan dan pengembangan menuju kota/kabupaten Layak Anak yang digagas oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak diperkuat dengan adanya one kit for all dalam bentuk Permen PP-PA no 11,12,13,14 terkait Kabupaten/Kota Layak Anak.

Cinta, kasih sayang, kehangatan, dan dorongan semangat belajar tanpa syarat merupakan pra syarat untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak dengan pengalaman belajar yang membahagiakan. Diyakini bahwa kehidupan yang baik terdapat dalam kebahagiaan yang diperoleh dari pemanfaatan kekuatan khas setiap anak manusia dalam wilayah-wilayah utama kehidupan mereka sehari-hari. Bagi anak, memanfaatkan kekuatan berarti melestarikan pengetahuan, penguasaan dan kebajikan dengan pengalaman belajar yang membahagiakan dalam bimbingan pendidik terbaik mulai dari rumah.

Mendorong dan mempertahankan kegembiraan anak dan mengembangkan rasa ingin tahu yang dimilikinya melalui pengalaman belajar yang membahagiakan menjadi tantangan bagi Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP). Kebahagiaan diharapkan akan diperoleh anak bukan dengan perasaan sesaat tapi dengan kegiatan yang sepenuhnya menyerap dan melibatkan anak untuk membangun kekuatan dan kebajikan personal.  Dalam upaya inilah, kami bermaksud menyelenggarakan mengajak semua pihak termasuk duta anak untuk GERA SHIAGA di Kota Bandung dan kota/kabupaten lainnya di Indonesia untuk menjadikan Car Free Day sebagai wahana  “Gerakan Membangun Indonesia Ramah Anak  (GeMBIRA) bersama KerLiP”

2.   Maksud dan Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk :

  1. Mendorong dan mempertahankan kegembiraan anak  perempuan dan laki-laki termasuk anak yang memerlukan pendidikan khusus dan atau pendidikan layanan khusus dan mengembangkan rasa ingin tahu yang dimilikinya melalui pengalaman belajar yang membahagiakan
  2. Meningkatkan efektivitas partisipasi keluarga untuk menerapkan prinsip-prinsip hak anak dalam  upaya pembangunan berkelanjutan melalui SIMPHONI menuju Kabupaten/Kota Layak Anak
  3. Menjadikan Car Free Day sebagai wahana untuk  sosialisasi tentang pentingnya OPERA  di POMG dan  ORKESTRA di dasawisma

3.   Waktu dan Tempat

Waktu peluncuran GeMBIRA bersama KerLiP dilaksanakan di Dago Car Free Day sejalan dengan prakarsa International Day for Disaster Reduction  yang bertemakan StepUp for Disabilitas dan Disaster yang diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal        : Minggu, 13 Oktober 2013

Waktu                   : 06.30 – 10.00 Wib

Tempat                  : Tempat Kumpul Aman di SMAN 1 Kota Bandung

Peserta                  :

  1. Ratusan peserta didik perempuan dan laki-laki TKBM SMPN terbuka Yayasan GAPURA
  2. Guru Pamong Yayasan GAPURA
  3. Duta Anak untuk GERA SHIAGA di SMAN 8 Bandung
  4. WAKAMAD Kesiswaan MAN 1 Kota Bandung
  5. Green Smile Inc.
  6. Perkumpulan KerLiP
  7. Perpustakaan Keliling Pusarda Kota Bandung
  8. Pengunjung stand

4.   Bentuk Kegiatan

Bentuk kegiatan dalam acara ini adalah

1. Pembukaan Perpustakaan keliling Pusarda Kota Bandung

2. Gelar Ular Tangga Hak-Hak Anak dari KPP-PA

3. Lelang untuk Gerakan Amal Pendidikan Untuk Rakyat

4. Lagu dan gerak “Evakuasi Gempa”

5. Penyusunan DReAM (Daftar Rencana Anak Mandiri) “ Bandung IDAMAN Anak dan Keluarga : bersahabat dengan disabilitas dan bencana”

6.  Presentasi DReAM di hadapan guru pamong

7.  Bermain dan Membaca bersama keluarga di stand SAnDI KerLiP

8. Operasi Semut pengumpulan sampah di tempat kumpul aman

9. Tepuk Pramuka untuk Peradaban Dunia yang lebih indah, damai, makmur, nyaman dan aman termasuk bagi disabilitas dan bencana

10. Potluck makanan dan minuman ASIH (Aman, Sehat, Bersih dan Halal) favorit keluarga

5.   Penutup

Demikianlah proposal ini kami buat, semoga pihak terkait dapat bekerja sama dalam menyukseskan kegiatan ini.